Pengumumanindeks

  • PENGUMUMAN PELATIHAN TEKNIS PAWANG ANJING PELACAK DJBC LANJUTAN : CONTAINER EXAMINATION DOG T.A 2018 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL PELATIHAN TEKNIS INTELIJEN TAKTIS ANGKATAN III TAHUN ANGGARAN 2018 +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN PELATIHAN TEKNIS PELAYANAN ADMINISTRASI MANIFES ANGKATAN II T.A 2018 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN PESERTA YANG TELAH MENGIKUTI LOKAKARYA MANAJERIAL KEPALA KANTOR DJBC TA. 2018 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL PELATIHAN TEKNIS KESAMAPTAAN ANGKATAN I TA. 2018 DI PALEMBANG +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL PELATIHAN TEKNIS KESAMAPTAAN ANGKATAN I TA. 2018 DI MEDAN +

    Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

Peraturanindeks

  • KMK Nomor 590/KMK.01/2016 ttg Pedoman Dialog Kinerja Individu di Lingkungan Kementerian Keuangan +

    Baca Selengkapnya
  • PER-2/PP/2016 Tentang Kerja Sama Program Pendidikan Dan Pelatihan Di Lingkungan Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan +

    Baca Selengkapnya
  • KMK Nomor 1329/KMK.01/2015 tentang Pedoman Survei Kepuasan Masyarakat Terhadap Penyelenggaraan Pelayanan Publik di lingkungan Kementerian Keuangan +

    Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

Berita Terbaruindeks

  • 1
  • 2
  • 3

Portal

CONSCIOUS COMPETENCE LEARNING MODEL

 

CONSCIOUS COMPETENCE LEARNING MODEL

 

(Dari Tidak Menyadari Bahwa Dirinya Tidak Mampu Menuju Kemampuan Yang Tidak Disadari)

 

Oleh :

 

Widyarini, S.Psi.

 

 

Abstrak 

 

Conscious Competence Learning Model (CCLM) menjelaskan bagaimana proses belajar individu dan tahapan-tahapan yang dilaluinya dalam proses pembelajaran tersebut hingga seseorang menguasai suatu kompetensi atau ketrampilan tertentu.  Konsep Conscious Competence Learning Model (CCLM) pada awalnya dicetuskan oleh Abraham Maslow dengan teori Four Statge of Learning, kemudian dikembangkan oleh beberapa praktisi training secara terpisah, salah satunya adalah Noel Burch yang bekerja untuk US Gordon Training International Organisation sekitar tahun 1970-an. Tahapan pembelajaran dalam CCLM terdiri dari : Unconscious Incompetence, Conscious Incompetence, Conscious Competence dan Unconscious Competence.

 

Pada saat proses pembelajaran berlangsung tidak jarang seseorang menemui kesulitan dan hambatan. Kesulitan yang muncul seringkali berkaitan dengan “rasa sulit” yang muncul karena justifikasi yang mereka buat terhadap pengalaman diri sendiri selama mengikuti proses belajar tersebut. Justifikasi terhadap diri sendiri seperti : “Aku tidak mampu melakukannya dengan benar”, atau “Saya tidak cukup bagus melakukannya” atau bahkan “Saya tidak akan pernah bisa mempelajarinya….”, menjadi penghambat mental yang signifikan dalam proses pembelajaran. Perasaan semacam itu muncul karena orang tersebut tidak memahami kondisi kompetensi yang dia miliki saat ini, sehingga dia tidak tahu, kalau mau belajar  mau mulai dari mana. Tulisan ini membahas tentang tahapan belajar, yang awalnya diperkenalkan oleh Abraham Maslow sebagai Four Stage of Learning (Empat tahapan dalam belajar) pada tahun 1940-an.

Pemahaman tentang stage atau tahapan dalam belajar akan membantu seseorang untuk tetap fokus pada apa yang ingin dia capai dalam proses pembelajaran tersebut, tanpa kecemasan atau perasaan negatif tentang bagaimana caranya belajar. Bagi para pendidik, pengajar, fasilitator maupun para trainer, pemahaman terhadap CCLM ini juga sangat penting.  Seringkali para pendidik, pengajar, fasilitator maupun para trainer bertindak terburu-buru dalam memberikan materi pembelajaran atau pelatihan, tanpa berusaha terlebih dahulu memahami kondisi awal para pelajarnya / trainee-nya.  Mereka seringkali beranggapan bahwa para siswanya adalah orang-orang yang sudah mengetahui pengetahuan / ketrampilan apa (kompetensi macam apa) yang mereka butuhkan, dan seberapa banyak yang mereka butuhkan agar mereka bisa efektif.  Padahal bisa jadi diantara calon pelajar atau siswa tidak menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak mampu. Dia juga tidak tahu apa relevansinya pengetahuan dan ketrampilan itu dengan dirinya. Akibatnya mereka tidak termotivasi untuk mempelajari suatu pengetahuan dan ketrampilan baru, karena memang tidak tahu apa yang tidak diketahuinya.  

Konsep Four Stage of Learning ini selanjutnya dikembangkan secara terpisah oleh beberapa orang. Beberapa diantaranya menggunakan beberapa istilah yang berbeda, seperti Learning Matrix, Conscious Competence Matrix,atau The Conscious Competence Ladder    meskipun esensinya adalah sama. Salah satu praktisi pelatihan yang mengembangkan konsep ini  adalah Noel Burch yang bekerja untuk US Gordon Training International Organisation pada tahun 1970-an. Noel Burch menggunakan terminologi Consious Competence Learning Matrix (CCLM) sedangkan W Lewis Robinson, menggunakan istilah 'conscious competence' . Dan ternyata pada tahun 1969 Martin M Broadwell juga pernah menjelaskan konsep 'conscious competence' model, dalam artikelnya yang berjudul 'Teaching for Learning'. Dalam naskah ini, penulis menggunakan istilah Consious Competence Learning Model (CCLM).  

Conscious Competence Learning Model (CCLM) menjelaskan tentang bagaimana individu belajar dan tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses pembelajaran tersebut hingga seseorang menguasai suatu kompetensi tertentu. Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan unduh file yang menyertai artikel ini

 

 

 

Diklat Terkini

Artikelindeks

  • Optimalisasi Peran Bakohumas Pemerintah

    Penulis: Tangguh Sang PutroPranata Humas pada Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan(Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan kebijakan instansi penulis bertugas)   Koordinasi dan kerja sama antar instansi pemerintah, termasuk di bidang kehumasan merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindarkan. Namun tidak dapat dipungkiri adanya kendala dalam pelaksanaan kerjasama antar humas Pemerintah. Untuk menjembatani hal tersebut, pada tahun 2014 Menteri Komunikasi dan Informatika mengeluarkan Peraturan Menteri Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 34 Tahun 2014 tentang Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas). Baca Selengkapnya
  • Pengembalian Pendahuluan Bagi Wajib Pajak Persyaratan Tertentu

    Oleh: Irawan Purwo Aji Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Balikpapan   Pendahuluan Direktorat Jenderal Pajak melalui siaran pers Nomor 17/2018 tanggal 28 Maret 2018 menyampaikan pengumuman Menteri Keuangan terkait kebijakan restitusi yang dipercepat. Dalam melaksanakan kebijakan restitusi yang dipercepat, Kementerian Keuangan memperluas kriteria Wajib Pajak yang berhak mendapatkan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak yaitu Wajib Pajak dengan riwayat kepatuhan yang baik, Wajib Pajak dengan nilai restitusi kecil, dan Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan likuiditas Wajib Pajak serta mendukung program pemerintah guna meningkatkan kemudahan dalam berusaha.Untuk pelaksanaan kebijakan tersebut telah diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2018 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak. Dengan terbitnya ketentuan ini, diharapkan lebih banyak lagi Wajib Pajak yang dapat memanfaatkan fasilitas restitusi ini sehingga dapat meningkatkan kemudahan berusaha dan menurunkan biaya karena proses pemeriksaan restitusi yang cukup memakan waktu yang lama. Dari sisi pemerintah, ketentuan ini dapat lebih fokus mengawasi Wajib Pajak dengan risiko tinggi karena sumber daya manusia yang selama ini digunakan untuk pemeriksaan restitusi dapat dialihkan untuk hal ini.     Baca Selengkapnya
  • POTRET KOMPETENSI KUASA PENGGUNA ANGGARAN DALAM PENGELOLAAN ANGGARAN SATUAN KERJA

    Oleh Abu Samman Lubis* Abstrak Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) memiliki kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan anggaran pada satuan kerja berkenaan. Untuk menjalankan fungsi dan tugas jabatan secara efisien dan efektif dibuatlah unit kompetensi. Unit kompetensi adalah cara memotret target-target yang akan dicapai oleh KPA. Unit-unit kompetensi merupakan tugas Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Untuk melakasanakan tugas tersebut harus mempunyai Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3). SK3 mencakup aspek pengetahun, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja. Melalui SK3, dan merupakan standardisasi bagi KPA, akan mendukung terwujudnya keprofesionalan KPA dalam melaksanakan fungsi dan tugas jabatannya. Kata Kunci: Kompetensi, Kuasa Pengguna Anggaran Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise
Indonesia Darurat Narkoba
APBN Kemenkeu 2016