Tidak Mudah Menjadi Pemimpin

Oleh: Tony Rooswiyanto

Widyaiswara Pusdiklat PSDM

“We don’t do things because they are easy; we do them because they are difficult.”

-       John F. Kennedy

Mengapa tidak mudah menjadi pemimpin? Mungkin Anda masing-masing bisa memberikan jawaban. Setiap orang bisa saja mengatakan setuju atau sebaliknya tidak setuju. Masing-masing pasti punya argumentasi dan ini sangat tergantung pada pengetahuan, pengalaman dan keyakinannya. Penulis termasuk orang yang setuju dengan judul di atas.

Perhatikan beberapa uraian penulis berikut ini:

1.Kepemimpinan itu suatu panggilan atau pilihan.

Seseorang memilih atau terpanggil  menjadi pemimpin karena ia baik langsung maupun tidak langsung belajar tentang kepemimpinan. Ketika belajar ia perlu waktu, kesabaran, dan bahkan ketekunan sehingga ia mencapai tahapan menguasai dan bahkan ahli kepemimpinan. Kualitas kepemimpinannya terbentuk karena ia sengaja belajar. Menurut hemat penulis, orang tidak bisa pergi ke dukun atau orang “pandai” untuk membeli dan memperoleh kepemimpinan. Demikian pula, orang tidak bisa menjadi pemimpin sekadar karena ia yakin. Keyakinannya perlu diikuti dengan pembelajaran kepemimpinan sehingga ia menjadi pemimpin sejati. Pembelajaran itu harus wujud dalam bentuk perubahan karakter, cara berpikir, hubungan dengan orang lain dan kualitas kinerja.

2. Tidak secara otomatis apabila Anda seorang pengusaha, politikus atau orator Anda menjadi pemimpin.

Katakanlah Anda seorang wirausahawan/wati. Anda memiliki gagasan-gagasan bisnis cemerlang dan memiliki kemampuan mengoperasikan bisnis. Anda tidak serta-merta seorang pemimpin karena menjadi pemimpin menuntut lebih. Meminjam istilah dari Kamus Kompetensi Assessment Center Kementerian Keuangan, pegawai atau pejabat yang memiliki kualifikasi pemimpin harus menguasai dan bahkan ahli secara simultan 3 komponen kompetensi: thinking, relating, dan working dengan nilai job person match minimum 72. Jadi, siapapun Anda apakah wirausaha, politikus atau orator, sepanjang Anda belum memiliki kualifikasi pemimpin, Anda belum merupakan pemimpin sejati.

3.Pemimpin tidak identik dengan perintis atau inisiator.

Tidak secara otomatis apabila Anda berdiri paling depan atau menginisiasi suatu kegiatan usaha atau upaya kemudian Anda disebut sebagai pemimpin. Ini tidak cukup. Meminjam istilah Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin harus di depan memberi contoh (ing ngarso sing tulodo), di tengah membangun kehendak (ing madyo mangun karso), dan di belakang mendorong atau menyemangati (tut wuri handayani). Seorang pemimpin tidak sekedar hanya perintis. Dia harus menjadi pribadi paripurna, yaitu memberikan keteladanan, memiliki inisiatif dan memberikan motivasi kepada para bawahannya.

4.Kepemimpinan itu bukan posisi atau jabatan.

Apabila Anda menduduki jabatan manajerial tertentu, mungkin sementara orang beranggapan Anda pemimpin. Anda dianggap sebagai pemimpin karena Anda memiliki SK jabatan Anda. Anda juga diasumsikan sebagai pemimpin karena Anda telah menjalani peraturan, melaksanakan dan memelihara sistem, dan bahkan memperhatikan efisiensi. Menjadi pemimpin dituntut lebih daripada sekadar mempertahankan status quo. Pemimpin harus sanggup melaksanakan perubahan positif. Pemimpin juga harus mampu menjadikan organisasinya sebagai organisasi moral. Menurut Michael Muccoby, organisasi moral adalah organisasi yang menjunjung nilai-nilai organisasi; organisasi yang mengapresiasi apa yang terbaik bagi anggota-anggota organisasi dan para pemangku kepentingan (stakeholders); organisasi yang menjamin keseimbangan ganjaran (reward) dan hukuman (punishment).

Pada masa mendatang, ketika seseorang dipandang sebagai pemimpin, Anda perlu lebih cermat dalam menilai karena tidak mudah menjadi pemimpin sejati. Pemimpin adalah orang yang mau bersusah-payah belajar kepemimpinan, mampu melaksanakan kerja tuntas, menghasilkan kinerja prima dan semakin menumbuhkan iklim kerja yang kondusif sehingga ia mampu meningkatkan kualitas kepemimpinannya dan menjadi pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang kehadirannya dikehendaki dan dirindukan, bukan sebaliknya pemimpin yang kehadirannya tidak diharapkan.

Paling Banyak Dibaca

  • Verifikasi Berkas USM PKN STAN +

    [Yogyakarta]Rabu, 22 Maret 2017. Minat masyarakat untuk menjadi mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN sampai saat ini ternyata masih sangat tinggi. Baca Selengkapnya
  • Pendapatan Yang Masih Harus Diterima: Jurnal Penyesuaian Akhir tahun dan Jurnal Balik Awal Tahun pada Aplikasi SAIBA +

    Oleh : Puji Agus, SST, Ak., M.Ak, CA Widyaiswara Madya   Abstrak: Saat ini Basis Akuntansi yang digunakan dalam mencatat transaksi Baca Selengkapnya
  • Pendapatan Diterima Di Muka: Jurnal Penyesuaian Akhir tahun dan Jurnal Balik Awal Tahun pada Aplikasi SAIBA +

    Oleh : Puji Agus, SST, Ak., M.Ak, CA Widyaiswara Madya   Abstrak: Saat ini Basis Akuntansi yang digunakan dalam mencatat transaksi Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise
Indonesia Darurat Narkoba
APBN Kemenkeu 2016