PERAN BARU PIMPINAN DALAM MEWUJUDKAN ‘LEARNING ORGANIZATION’ PADA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Oleh : Retno Dayu Wardhani

Widyaiswara Madya Balai Diklat Keuangan Cimahi

 

Latar Belakang

Globalisasi sampai saat ini masih menjadi isu strategis yang harus dicermati, harus disikapi secara positif sebagai proses pembangunan mental dan karakter untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa. Globalisasi telah menyadarkan kita betapa pentingnya peran manusia sebagai aset atau modal dasar pembangunan. Bangsa yang mampu bersaing dalam kancah global adalah bangsa yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM)/human capital yang unggul, dengan demikian pembangunan yang mengarah kepada pembangunan SDM adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Kita harus menggali dan mengembangkan potensi SDM yang kita miliki dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa di kancah global, serta untuk memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada khususnya.

 

Pasca tahun 2015 hingga tahun 2030, Indonesia akan mengalami bonus demografi, dan sebagian besar penduduknya adalah penduduk usia kerja. Potensi ini yang harus kita manfaatkan. Jika besarnya kuantitas penduduk usia kerja tersebut diimbangi dengan tingginya kualitas SDM (human capital), maka bukan tidak mungkin bonus demografi tersebut dapat mengantarkan kita menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang disegani di dunia. Pembangunan SDM/human capital harus menjadi fokus dan misi kita bersama, baik dalam jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. 

 

Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) merupakan salah satu unit eselon I di bawah Kementerian Keuangan yang bertanggung jawab dalam bidang pengembangan SDM Kementerian Keuangan. Makin tingginya peran Kementerian Keuangan sebagai pengelola fiskal dan makin tingginya harapan yang digantungkan pada Kementerian Keuangan, makin tinggi pula harapan yang disematkan kepada BPPK. Besarnya tuntutan dan tanggung jawab dalam mencetak pengelola Keuangan Negara yang profesional di Indonesia, menjadi tanggung jawab BPPK. Untuk dapat melaksanakan amanat ini dibutuhkan upaya-upaya peningkatan kapasitas BPPK secara berkesinambungan. 

 

Arah kebijakan dan strategi yang ditempuh BPPK mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Keuangan. Dalam hal ini, salah satunya yaitu kesinambungan reformasi birokrasi, perbaikan governance, dan penguatan lembaga. Sasaran strategis yang menjadi peran BPPK dari arah kebijakan ini adalah SDM yang kompetitif.  Dalam rencana strategis BPPK, ada 3 (tiga) hal yang menjadi fokus, yaitu mendukung Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan, membangun corporate university, serta tersedianya sertifikasi kompetensi. Corporate university yang akan diwujudkan oleh BPPK disini bukan lembaganya, namun merupakan suatu konsep proses belajar dalam organisasi, jadi corporate university di sini adalah konsep organisasi pembelajar (Learning Organization). Lembaga pendidikan dan pelatihan harus membangun suatu proses belajar untuk membantu induk organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya. 

 

Organisasi pembelajar membutuhkan peran-peran baru para pemimpin, dan keterampilan-keterampilan baru yang harus dimiliki oleh pemimpin. Mereka bertanggung jawab terhadap pembangunan organisasi, dimana orang-orang secara terus menerus memperluas kemampuan mereka.

Organisasi Pembelajar (Learning Organization)

Peter Senge (1990) mengatakan bahwa organisasi pembelajar (learning organization) adalah:

            ”Organisasi yang orang-orangnya secara terus menerus meningkatkan kapasitas untuk mencapai yang mereka dambakan, pola pikir baru dipelihara, aspirasi kolektif dibiarkan bebas, dan setiap orang secara terus menerus belajar untuk bagaimana belajar bersama”.

Dengan dasar pemikiran rasional, maka organisasi yang demikian mempunyai ciri bahwa hanya mereka yang secara fleksibel, adaptif, generatif dan produktif yang akan tetap bertahan pada situasi yang cepat berubah. Agar hal tersebut dapat terwujud, maka organisasi harus menemukan cara yang mampu menyadap komitmen dan kapasitas anggotanya untuk terus menerus belajar di semua tingkatan organisasi.

Organisasi harus terus mengembangkan kapasitasnya untuk menciptakan masa depan mereka, untuk itu membutuhkan perubahan pikiran (shift of mind) yang fundamental diantara anggota organisasi.

Organisasi pembelajar harus mampu belajar adaptif (adaptif learning), namun menurut Senge belum cukup hanya untuk bertahan hidup, sehingga perlu menggabungkan dengan belajar generatif (generative learning), yaitu belajar yang memperbaiki kapasitas kita untuk mencipta (Senge, 1990:14). Gabungan adaptif learning dan generative learning akan berhasil menemukan jati diri manusia, karena menurut Senge, “pembelajaran sesungguhnya menyentuh perasaan yang berhubungan dengan apa arti menjadi manusia”.

Tugas Baru Para Pemimpin

Tugas baru para pemimpin adalah membangun organisasinya menjadi Organisasi Pembelajar (Learning Organization). Dalam organisasi pembelajar, pemimpin bertanggung jawab terhadap pembangunan organisasi, dimana orang-orang secara terus menerus memperluas kemampuan mereka untuk memahami kompleksitas, menjelaskan visi, dan memperbaiki model-model mental bersama (dengan perkataan lain, mereka bertanggung jawab untuk belajar). Di bawah ini akan kita cermati bersama peran-peran baru para pemimpin dalam membangun organisasi pembelajar.

1. Pemimpin sebagai Perancang (Leader as Designer)

Tugas pemimpin adalah merancang proses belajar yang dapat digunakan oleh orang-orang dalam organisasi secara keseluruhan untuk secara produktif menyelesaikan isu-isu utama yang harus mereka hadapi, dan mengembangkan penguasaan disiplin belajar mereka. Disini akan melibatkan kebijakan, strategi, dan struktur yang diterjemahkan ke dalam  ide-ide yang mengarah pada suatu keputusan bisnisnya. 

2. Pemimpin sebagai Pengasuh/Penjaga/Pengelola (Leader as Steward)

Pemimpin adalah pengasuh/penjaga/pengelola visi, tugas mereka adalah untuk mengelola visi tersebut guna kepentingan anggota, hal ini berhubungan dengan komitmen dan tanggung jawabnya terhadap visi tersebut.  Pemimpin harus belajar mendengar visi orang lain, dan mengubah visi pribadinya apabila perlu.

3. Pemimpin sebagai Guru (Leader as Teacher)

Pemimpin sebagai guru bukanlah tentang ‘mengajar’ orang-orang bagaimana mencapai visi mereka, akan tetapi memberikan dukungan dan membantu setiap orang dalam organisasi, termasuk dirinya sendiri, untuk belajar mendapatkan wawasan atau pengetahuan yang mendalam, serta bagaimana cara memandang masalah dan peluang, mengidentifikasi rangkaian tindakan, dan membuat pilihan. Pemimpin harus menciptakan dan mengelola ‘ tegangan kreatif ‘, yaitu kesenjangan antara visi yang ingin dicapai dengan realitas. Penguasaan tegangan kreatif yang demikian dapat membuka peluang untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendasar dalam organisasi.

Peran-peran tersebut di atas membutuhkan keterampilan baru yaitu kemampuan untuk membangun visi bersama (building shared vision), untuk memunculkan model-model mental (mental models), dan untuk menumbuhkan pola yang lebih sistemik dalam berpikir. Keterampilan ini hanya dapat dikembangkan melalui komitmen seumur hidup. Selain itu, tidak cukup untuk satu atau dua individu saja yang dikembangkan, namun harus secara luas diseluruh anggota organisasi.

Singkatnya, pemimpin dalam organisasi pembelajar bertanggung jawab untuk organisasi di mana anggota-anggotanya terus-menerus memperluas kemampuan mereka untuk membentuk masa depan mereka, pemimpin bertanggung jawab untuk terus belajar.

 

Daftar Pustaka

Senge, Peter M. 1990. The Fifth Dicipline, the Art and Practice of Learning Organization. New York: Double Day, Currency.

Widodo, Joko. 2013. Learning Organization. Malang: Bayumedia Publishing.

Paling Banyak Dibaca

  • Verifikasi Berkas USM PKN STAN +

    [Yogyakarta]Rabu, 22 Maret 2017. Minat masyarakat untuk menjadi mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN sampai saat ini ternyata masih sangat tinggi. Baca Selengkapnya
  • Pendapatan Yang Masih Harus Diterima: Jurnal Penyesuaian Akhir tahun dan Jurnal Balik Awal Tahun pada Aplikasi SAIBA +

    Oleh : Puji Agus, SST, Ak., M.Ak, CA Widyaiswara Madya   Abstrak: Saat ini Basis Akuntansi yang digunakan dalam mencatat transaksi Baca Selengkapnya
  • Acara Pisah Sambut Para Pejabat +

      [Tangerang Selatan] Rabu, 4 Januari 2017. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kekayaan Negara dan PerimbanganKeuangan memimpin acara pisah sambut Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise
Indonesia Darurat Narkoba
APBN Kemenkeu 2016