Level Kepemimpinan: di Posisi Manakah Level Kita?

Penulis: Kuwat Slamet

Pendahuluan
Kepemimpinan (leadership) merupakan tema luas yang tak pernah habis untuk dikaji. Selain luas, tema ini memang sangat menarik untuk dibahas karena menyangkut sikap dan perilaku diri seseorang yang berada pada posisi tertentu dimana ia memiliki pengikut (baca: staf, anggota, atau bawahan). Berbagai buku literatur, yang ditulis oleh para pakar di bidangnya dan berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun, sangat banyak kita temui baik di perpustakaan maupun di toko buku. Berbagai artikel dengan tema serupa juga sangat mudah kita dapatkan melalui penjelajahan di internet. Riset tentang kepemimpinan juga tak kalah banyaknya. Semuanya mengarah pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa kepemimpinan seseorang pada sebuah organisasi merupakan faktor penentu utama kesuksesan (key success factor) organisasi tersebut.

 

Pembahasan mengenai kepemimpinan biasanya dipadukan dengan berbagai variabel yang melingkupinya, seperti pengaruh (influence), gaya (style), kekuatan/ kekuasaan (power), integritas (integrity), perubahan (change), pemecahan masalah (problem solving), hubungan antarmanusia (human relationship), dan sebagainya. Nah, kali ini izinkan penulis mengulasnya berdasarkan tingkatan atau levelnya. Tentu saja, tulisan ini bukan sepenuhnya orijinalitas ide penulis, melainkan hasil pengelaborasian dari ulasan seorang pakar kepemimpinan yaitu John C. Maxwell dan dari pengalaman serta pengamatan penulis, baik selama berkarya di jenjang jabatan struktural selama hampir 17 tahun maupun selama memberikan materi-materi tentang kepemimpinan pada sebuah diklat.
Maxwell dalam bukunya yang berjudul, “Mengembangkan Kepemimpinan di dalam Diri Anda (Developing the Leader within You)”, sebuah buku best seller dunia, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya, kepemimpinan seseorang dapat dibagi menjadi 5 (lima) level. Level pertama atau level dasar adalah position (posisi), level kedua adalah permission (izin/kehendak), level ketiga adalah production (hasil atau kinerja), level keempat adalah people development (pengembangan orang lain), dan level tertinggi adalah pinnacle (puncak/ penguasaan diri).
Menurut Maxwell, keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi sangat bergantung pada di level mana kepemimpinan kita berada. Katakanlah level kepemimpinan kita “baru” berada pada level dua, maka jangan berharap orang-orang di sekeliling kita mau bekerja keras dengan sepenuh hati dan menghasilkan kinerja terbaiknya. Singkatnya, pencapaian maksimal kinerja suatu organisasi sangat bergantung pada tingkat atau level kepemimpinan sang pemimpin organisasi tersebut.
Maxwell juga mengenalkan teori hubungan antara kepemimpinan dan pengaruh, yang diberi label: the law of influence. Dalam teori tersebut, Maxwell berkeyakinan bahwa ukuran yang sesungguhnya dari kepemimpinan adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang! Ia mengatakan bahwa bagus tidaknya kepemimpinan seseorang dapat diukur dari seberapa besar pengaruh yang bisa ia lakukan terhadap orang lain (dalam hal ini adalah para staf/ bawahan/ pengikutnya).
Dalam kamus kompetensi Kementerian Keuangan terdapat salah satu kompetensi perilaku yang perlu dimiliki oleh pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan, khususnya bagi mereka yang telah menduduki posisi jabatan struktural/ fungsional, yaitu mempengaruhi dan mempersuasi (Influencing and Persuading). Di kamus ini disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi ini adalah kemampuan meyakinkan orang lain untuk mengambil suatu tindakan tertentu. Orang-orang yang memiliki kompetensi ini adalah mereka yang mampu mempengaruhi orang lain tanpa sikap agresif secara berlebihan atau memaksakan kehendak. Mereka memahami orang yang mereka hadapi dan mampu menyesuaikan cara persuasinya. Mereka adalah orang yang percaya diri dan tidak mudah putus asa.


Level Pertama: Position
“People follow because they have to or because their position.”
Kata kunci pada level ini adalah hak (right). Ini adalah level kepemimpinan yang paling dasar. Seseorang menjadi pemimpin karena ia mendapatkan posisi tersebut, apakah melalui surat keputusan ataukah melalui penunjukkan dari pihak yang dapat memberi “kedudukan”. Pemimpin yang berada pada level ini memiliki kualitas kepemimpinan yang hanya sebatas pada jabatan yang diemban. Mereka mampu mempengaruhi orang lain karena kedudukan yang dimilikinya. Orang-orang di sekitarnya memandang sang pemimpin hanya sebatas sebagai atasan, tidak lebih dari itu! Sebagian bawahan mungkin saja senang hati mengikuti instruksi yang diberikan kepadanya namun sebagian besar lainnya melakukan instruksi karena suatu keterpaksaan atau karena tidak memiliki pilihan lain. Para bawahan merasa “harus” mengerjakannya karena mereka tidak bisa menolak. Posisi mereka yang memaksa diri mereka untuk mengerjakan hal tersebut.
Pada kondisi seperti ini, tentu saja, capaian target organisasi cukup sulit untuk diraih. Kerja sama yang terbangun bukan dilandaskan atas kesadaran dan ketulusan, melainkan karena mereka merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah tugas yang memang harus dikerjakan. Pada level inilah kemudian banyak tulisan yang mengungkapkan perbedaan antara bos dengan pemimpin (leader). Bos memerintah, pemimpin mengarahkan. Bos lebih banyak berbicara, pemimpin lebih banyak mendengar. Bos menimbulkan rasa takut, pemimpin menimbulkan antusiasme. Bos mengatakan “saya”, pemimpin mengatakan “kita”. Dan sebagainya.
Gaya kepemimpinan otoriter penuh merupakan gaya kepemimpinan yang umumnya muncul pada diri pemimpin yang berada pada level ini. Tidak jarang, pada suatu rapat atau diskusi, ia menunjukkan posisi atau kedudukan dirinya kepada para bawahannya. Disadari atau tidak, kadang kata-kata seperti ini terlontar dalam ucapannya, “Saya adalah bos Anda!”, “Saya ini atasan Anda!”, “Saya yang jadi kepala kantor, bukan Anda...!” Bila hal seperti ini dilakukan oleh sang pemimpin, maka bersiaplah: di saat Anda tidak lagi menduduki jabatan atau posisi tersebut, sebagian atau seluruh dari bawahan Anda akan berpesta pora untuk merayakan kepergian Anda!
Untuk dapat naik ke level berikutnya, ciri khas yang perlu dimiliki oleh Pemimpin pada level ini di antaranya adalah mengetahui deskripsi pekerjaan secara menyeluruh, mengetahui sejarah organisasi, melebur menjadi bagian dari tim, menerima tanggung jawab sebagai Pemimpin dan bukan sebagai bos, melakukan pekerjaan dengan keunggulan yang konsisten, mengerjakan lebih banyak dari pada yang diharapkan, dan menawarkan gagasan kreatif kepada para bawahan tentang perubahan dan peningkatan kinerja.


Level Kedua: Permission
Kata kunci pada level ini adalah hubungan (relationship). Ya, karena pada level ini hubungan antara Pemimpin dengan bawahan sudah terbina dengan lebih baik. Bawahan menyukai atasannya dan demikian pula sebaliknya. Yang dimaksud dengan kata menyukai di sini adalah rasa suka yang dilandasi oleh keikhlasan, bukan karena keterpaksaan. Bawahan merasa “diorangkan” dan dipandang sebagai mitra oleh atasannya. Atasanpun memandang bawahan sebagai bagian dari organisasi yang akan membantunya mencapai tujuan organisasi. Atasan yang mampu menciptakan lingkungan organisasi seperti ini adalah seorang pemimpin yang berada di level dua.
Bila pada level satu, bawahan mau bekerja karena mereka “terpaksa” mengerjakannya, maka pada level ini bawahan “mengizinkan” diri mereka untuk bekerja sama dengan pemimpinnya. Hal ini terjadi karena adanya hubungan yang tidak sebatas pada posisi masing-masing pihak. Kedua pihak memahami posisi masing-masing tanpa harus “menegaskan” siapa berada pada posisi apa. Pemimpin tak perlu mengatakan posisinya. Sebaliknya, bawahan telah memahami posisi mereka dan mereka berniat untuk bekerja sama dengan Pemimpin yang diikutinya.
Unsur keterpaksaan (dalam bekerja sama) pada diri bawahan sudah menghilang pada level ini. Pemimpin telah mampu menjalin kerja sama saling menghargai dengan para bawahannya. Pemimpin mengambil peran sebagai pihak yang mengarahkan dan membimbing para bawahan menuju pencapaian target kinerja organisasi. Pada level ini, pemimpin memberikan contoh yang baik kepada para bawahan sehingga memunculkan keikhlasan para bawahan untuk bekerja. Para bawahan akan mengikuti pemimpin melampaui wewenang yang dinyatakan dalam uraian pekerjaan. Level ini memungkinkan pekerjaan bisa menyenangkan. Namun demikian, pemimpin yang berada terlalu lama pada level ini, tanpa naik ke level yang lebih tinggi, akan menyebabkan orang-orang yang telah sangat termotivasi menjadi gelisah. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih lagi.
Untuk naik ke level berikutnya, ciri khas yang perlu dimiliki oleh pemimpin pada level ini di antaranya adalah memiliki cinta yang sesungguhnya untuk orang lain, membuat para bawahan yang bekerja dengan Anda menjadi sukses, melihat dari sudut pandang orang lain, mencintai orang melebihi mencintai prosedur, melakukan tindakan “win-win” terhadap bawahan, dan memperlakukan orang lain secara bijaksana.


Level Ketiga: Production
Kata kunci pada level ini adalah hasil (result). Pada level ini, selain kerja sama yang sudah terjalin antara pemimpin dengan bawahan, juga kerja sama tersebut membuahkan hasil sesuai dengan yang diinginkan oleh organisasi. Pemimpin dan bawahan bekerja keras secara ikhlas untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi organisasi. Di level ini, kesuksesan pencapaian organisasi dirasakan oleh banyak orang. Bawahan menyukai pemimpinnya atas apa yang telah dilakukan oleh Pemimpin tersebut bagi organisasi. Setiap masalah yang terjadi dapat diselesaikan dengan sedikit upaya karena adanya jalinan kerja sama yang baik antara atasan dengan bawahan.
Pemimpin yang berada di level ini akan sangat mudah mencapai tujuan organisasi karena hubungan baik yang terjalin antara atasan dan bawahan membentuk mereka untuk menghasilkan sesuatu bersama-sama. Target capaian yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dengan mudah diraih. Selain itu, pemimpin mampu mengarahkan bawahan (dengan menerapkan konsep-konsep manajemen yang sehat) untuk menggapai tujuan bersama. Namun, ini bukanlah level tertinggi dalam kepemimpinan. Masih banyak hal lain yang perlu dilakukan oleh pemimpin yang telah berhasil mencapai level ini.
Untuk naik ke level berikutnya, ciri khas yang perlu dimiliki oleh pemimpin pada level ini di antaranya adalah mulailah menerima tanggung jawab untuk pertumbuhan, kembangkan dan ikuti pernyataan tujuan organisasi, jadikan deskripsi kerja dan energi sebagai bagian integral dari pernyataan tujuan organisasi, kembangkan rasa tanggung jawab untuk hasil dan dimulai dari diri sendiri, ketahui dan lakukan hal-hal yang memberikan hasil besar, komunikasikan strategi dan wawasan organisasi kepada bawahan, jadilah sarana perubahan (change agent), dan ambillah keputusan sulit yang akan membuat perbedaan.


Level Keempat: People Development
Kata kunci pada level ini adalah reproduksi (reproduction). Setelah seorang pemimpin berada di level ketiga dari lima level kepemimpinan, bila ia ingin mengharapkan organisasi yang dipimpinnya menghasilkan karya yang jauh lebih besar, maka level kepemimpinannya harus naik ke level keempat, yaitu pengembangan sumber daya manusia. Di level inilah pertumbuhan jangka panjang akan terjadi. Komitmen pemimpin untuk mengembangkan orang lain akan memastikan pertumbuhan yang terus berlangsung bagi organisasi dan orang-orang di dalamnya.
Pemimpin yang hebat bukan ditentukan oleh kekuasaan yang dimilikinya, melainkan ditentukan oleh kemampuan mereka dalam memberikan kekuatan kepada orang lain. Sukses tanpa pengganti adalah kegagalan. Oleh karenanya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin baru (leader create leaders). Tanggung jawab utama seorang pegawai adalah melakukan pekerjaannya sendiri. Tanggung jawab seorang pemimpin adalah mengembangkan orang lain untuk melakukan pekerjaan.
Loyalitas kepada pemimpin mencapai puncak tertinggi ketika para bawahan secara pribadi tumbuh melalui bimbingan (coaching and mentoring) sang pemimpin. Pada level dua, bawahan mencintai/menyukai pemimpinnya. Pada level tiga, bawahan mengagumi pemimpinnya. Pada level ini, bawahan loyal pada pemimpinnya karena mereka merasa telah dikembangkan dengan baik oleh sang pemimpin. Oleh karena itu, bila Anda adalah seorang pemimpin, maka lakukanlah hal apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mencapai level ini dan kemudian mempertahankannya!
Untuk naik ke level berikutnya, ciri khas yang perlu dimiliki oleh pemimpin pada level ini diantaranya adalah: menyadari bahwa manusia adalah aset yang paling berharga, tempatkan prioritas pada pengembangan manusia, dan jadilah teladan untuk diikuti orang lain.


Level Kelima: Pinnacle
Kata kunci pada level ini adalah rasa hormat (respect). Ini adalah level tertinggi yang dapat diraih oleh seorang pemimpin. Pada level ini, pemimpin telah memberikan segalanya bagi organisasi. Ia telah melewatkan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan orang lain dan organisasi. Keteladanan sang pemimpin akan dikenang sepanjang masa oleh para bawahan. Sayangnya, menurut Maxwell, sedikit sekali seorang pemimpin yang mampu mencapai level ini.
Ukuran keberhasilan seorang pemimpin pada level puncak ini adalah bilamana ia meninggalkan organisasi, maka banyak orang yang merasa kehilangan dirinya. Para bawahan merasa terhormat telah mengenal diri pemimpinnya. Mereka memberikan rasa hormat tertinggi pada sang pemimpin yang telah berhasil membawa organisasi dan orang-orang di dalamnya ke jenjang terbaik.
Ciri khas yang dimiliki oleh Pemimpin pada level ini adalah: para bawahan loyal dan mau berkorban untuk pemimpin dan organisasi, telah melewatkan waktu bertahun-tahun untuk membimbing dan mencetak pemimpin-pemimpin baru berkualitas terbaik, telah menjadi seorang “negarawan” dan dicari-cari banyak orang, dan kegembiraan terbesar berasal dari memperhatikan orang lain tumbuh dan berkembang.

Paling Banyak Dibaca

  • Pendapatan Yang Masih Harus Diterima: Jurnal Penyesuaian Akhir tahun dan Jurnal Balik Awal Tahun pada Aplikasi SAIBA +

    Oleh : Puji Agus, SST, Ak., M.Ak, CA Widyaiswara Madya   Abstrak: Saat ini Basis Akuntansi yang digunakan dalam mencatat transaksi Baca Selengkapnya
  • Acara Pisah Sambut Para Pejabat +

      [Tangerang Selatan] Rabu, 4 Januari 2017. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kekayaan Negara dan PerimbanganKeuangan memimpin acara pisah sambut Baca Selengkapnya
  • Verifikasi Berkas USM PKN STAN +

    [Yogyakarta]Rabu, 22 Maret 2017. Minat masyarakat untuk menjadi mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN sampai saat ini ternyata masih sangat tinggi. Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise
Indonesia Darurat Narkoba
APBN Kemenkeu 2016